Buku-Buku Hebat yang Pernah Kubaca, 'The Catcher in The Rye' Salah Satunya

 

Sumber: Pexels/Kaboompics





Orang bilang semua karya sastra itu bagus. Mohon maaf, gak dulu!


*** 

Dari apa yang kupelajari dalam hidup ini, semua karya sastra itu bagus dan baik bentuknya. Akan tetapi, di antara karya-karya bagus itu, terdapat karya-karya yang hebat pula. Menurutku, karya yang hebat itu adalah suatu karya yang dapat mempengaruhi pembacanya, dalam makna apa saja. Artinya, sebuah karya sastra yang hebat harus membuat suatu perubahan dalam hidup si pembaca.

Untuk itu, aku yang seorang pembaca, mempunyai buku-buku yang kuanggap karya sastra hebat. Buku-buku yang telah merubah pola pikir dan sikapku terhadap berbagai fenomena-fenomena kehidupan. Aku akan sangat senang jika buku-buku itu dapat juga kalian baca nantinya.

Buku pertama yang membuatku terkesan adalah The Book of Lost Things, karya John Connolly. Pada halaman belakang sampulnya ia menulis, “Dongeng ini diperuntukkan bagi orang dewasa, terutama yang masih ingat saat-saat Ketika masa kanak-kanak mulai berlalu dan jalan menuju kedewasaan telah terbentang.”

Buku itu bukanlah buku John pertama yang kubaca. Namun, aku merasa inilah puncak karyanya sebagai penulis. Buku itu bercerita soal seorang bocah lelaki yang muak dengan kehidupan keluarga barunya, yang kemudian tersesat di sebuah negeri di mana tokoh-tokoh dongeng yang selama ini kita kenal bukanlah seperti yang kita kenal. David, si bocah tersebut, tidak bisa terima dengan kenyataan itu. Ia memutuskan untuk mengambil alih negeri tersebut dengan menjadi raja, dan mewariskan kitab misterius soal sesuatu yang telah hilang. Sayang, buku ini pun ikut hilang dari perpustakaan pribadiku sejak 2016 silam.

Sejak menghabiskan kisah itu, pandanganku berubah soal memahami dunia fiksi. Fiksi tak harus dimulai dengan kesedihan dan berakhir dengan kebahagiaan. Absurditas pun dapat menjadi opsi untuk memulai dan mengakhiri sebuah karya sastra. Aku sendiri tak percaya rumus-rumus dalam proses penciptaan karangan cerita. Jika ada begitu, apa menariknya kisah-kisah itu.

Kemudian, novel tersohor dari Promoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, menjadi buku kedua yang aku nobatkan sebagai karya sastra hebat. Buku ini kukenal dari sebuah kutipan yang sangat fenomenal, “Seorang terpelajar haruslah bersikap adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Karena penasaran, dan tak mampu membeli karena harganya cukup mahal, aku meminjam buku ini dari seorang kerabat. Secara teknik kepenulisan, tulisan Pram agak berbeda dari karya-karya mutakhir, mungkin dipengaruhi oleh ejaan lama pada masa ia menulis. Tapi, tak membuat pembaca masa kini sulit untuk mengerti lorong-lorong drama dalam kota B-nya itu.

Pram nampaknya begitu memomokkan kolonialisme dalam tulisannya di novel ini. Pandangan-pandangannya menusuk tajam dalam bentuk karakter seorang Minke. Aku suka bagaimana Minke harus bersikap dalam melawan kolonialisme pemerintahan Hindia-Belanda.

Minke yang seorang pribumi, lagi penulis, juga tidak suka hal-hal yang berbau feodal. Terutama kepada adat-istiadat Jawa yang suka menyembah-nyembah tuan besar. Walaupun ia seorang anak bupati, ia tidak suka dengan kelakuan ayahnya. Ia tidak ingin memerintah atau diperintah, ia ingin menjadi manusia yang bebas.

Buku ini menjadi refleksi bagiku soal bagaimana aku harus bersikap pada lingkunganku, menekanku untuk tidak seharusnya mengkultuskan suatu entitas apa pun, dan menyadarkanku bahwa manusia itu setara derajatnya.

Selanjutnya, aku cukup terpana dengan buku The Catcher in The Rye. Buku itu adalah buku pertama dan terakhir yang ditulis oleh J. D. Salinger. Desas-desusnya, buku tersebut dinobatkan sebagai seratus buku terbaik sepanjang masa. Bukan soal banyaknya jumlah kopian buku yang terjual di berbagai belahan dunia. Tapi, kisah yang dihadirkan oleh Salinger begitu kelam.

Holden Caulfield, sang tokoh utama, sangat membenci sekolah. Ia tidak lulus dalam semua mata pelajaran, kecuali Bahasa Inggris. Ia hanya suka membaca dan menulis. Guru kesukaannya—guru sejarah, tak bisa membantunya naik kelas. Untuk itu, ia memutuskan untuk kabur dari sekolah—kehidupan yang membosankan. Menurutnya, pembangkangan adalah pembebasan.

Holden akan memaki apa saja yang menurutnya munafik atau hal itu sungguh barang ‘sialan’. Ia memaki sistem sekolah yang mengacu pada nilai ketimbang minat siswa, kakaknya si penulis yang ‘melacur’ di Hollywood, teman-teman tololnya di asrama, ia benci mereka semua.

Riwayat paling dikenang pada buku ini hadir pada nama David Chapman. Bagaimana tidak, ia mengeluarkan buku ini dari sakunya setelah menembak empat butir peluru ke tubuh John Lennon. Ia menganggap Holden adalah dirinya. Alasan ia membunuh John Lennon ialah John orang yang munafik. Ia menganggap karya-karyanya banyak bersimpati ke orangorang bawah, namun John menjalani kehidupan mewah.

Bukan berarti aku akan melakukan hal gila setelah baca buku ini. Tapi, aku jadi memiliki cara pandang yang lebih variatif dalam melihat dan menilai dunia ini, tidak sekadar hanya urusan yang hitam-putih. Aku pun menjadi lebih berhati-hati dalam mempercayai segala-galanya.

Buku selanjutnya adalah A Monster Calls, karya Patrick Ness berdasarkan ide final Siobhan Dawd. Naskah buku ini sebenarnya tak selesai di tangan Dawd, karena ia keburu meninggal akibat kanker. Patrick Ness adalah orang yang ditunjuk penerbit untuk melanjutkan dan merampungkan naskahnya. Buku ini juga telah diadaptasi menjadi film yang tak kalah hebatnya dengan judul yang sama dan disutradarai oleh J.A. Bayona.

“Sayangnya yang tidak ia miliki adalah waktu. Inilah yang aku dan Siobhan hasilkan. Jadi pergilah. Bawa lari. Buatlah kekacauan,” begitu kata Ness dalam kata pengantar bukunya.

Tokoh utama buku ini adalah Connor O’Malley, seorang bocah yang sedang dalam proses meninggalkan masa kanak-kanak dan akan segera memasuki masa remaja. Namun, masa transisi Connor tidak semudah kelihatannya. Ia harus mengetahui kenyataan bahwa ibunya yang sakit, akan segera pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Buku ini menceritakan betapa sulitnya Connor menghadapi masa pubertas. Ia harus mengurus dirinya sendiri dan seisi rumah sendirian. Ibunya sakit-sakitan, sedangkan ayahnya telah lama meninggalkan mereka. Ia hanya punya seorang nenek, tapi hubungan mereka sama sekali tidak akrab. Di sekolah pun, ia tak memiliki teman, dan ia kerap kali mendapat perundungan.

Namun, yang membuat kisah ini mengagumkan adalah pergulatan batin Connor dan fantasi-fantasinya. Ia tahu dan sadar bahwa ibunya akan segera mati, yang membuat Connor tak tahan adalah proses itu begitu lambat. Sehingga ia harus menderita detik tiap detik, menebak-nebak kapan hari itu akan datang.

Kisah Connor dikemas dengan sangat apik oleh Patrick Ness. Ness tahu bahwa Dawd tak akan memberinya kisah ini dengan biasa-biasa saja, terutama soal penyakit yang selama ini dia derita. Ini bukan soal seorang bocah yang menunggu kematian ibunya karena kanker, tapi ini soal seorang bocah yang baru akan menghadapi dunia, sudah langsung dihantam dengan kejam. Ini soal kesehatan mental, dan ini penting. Buku ini seolah mengingatkanku bahwa hal-hal kecil tak selamanya kecil. Perkara kecil pun pantas mendapat atensi yang komprehensif dan ekstensif.

A Monster Calls akan membuat siapa saja takjub dengan narasinya yang luar biasa hidup. Mencengangkan, sekaligus mendebarkan. Buku ini cocok sekali bagi siapa saja yang ingin belajar menulis.

Untuk sekarang, itulah buku-buku yang kuanggap unggul di antara koleksi buku-buku fiksiku di lemari. Mungkin tiap orang memiliki pengalaman yang berbeda dalam menafsirkan apa yang kusebut dengan ‘buku hebat’ itu. Aku tak pernah punya niat untuk mengatakan bahwa referensiku lah yang paling oke. Tidak. Tidak begitu.

Artikel ini kutulis hanya untuk berbagi rekomendasi literatur-literatur fiksi yang pernah kubaca. Mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan kalian jikalau ingin membeli buku dalam waktu dekat ini. Sekian…

 


Buku-Buku Hebat yang Pernah Kubaca, 'The Catcher in The Rye' Salah Satunya Buku-Buku Hebat yang Pernah Kubaca, 'The Catcher in The Rye' Salah Satunya Reviewed by Ardian Pratama on Oktober 08, 2021 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.