Kita itu Sebenarnya ‘Bekerja’ atau ‘Dikerjai’ Sih?

Sumber gambar: pexels/fauxels





Ada banyak hal di dunia ini yang bikin kita depresi, salah satunya adalah berhadapan dengan  kondisi pekerjaan yang macam babi.


***

Sudah menjadi hal yang lazim bahwa pekerja atau pegawai harus mematuhi segala perintah dari atasannya. Tak peduli perintah apa yang keluar dari congor si atasan, si bawahan mesti siap melapor “noted”, kemudian “done” jika tak ingin diultimatum dengan teguran.

Atasan juga biasanya berlagak sok kuasa atas apa yang menjadi ‘milik’-nya. Tak boleh ada kata “tidak” atau pun “belum selesai”, bisa-bisa muncungnya bakalan merepet seperti lobang anus ketika mencret—berisik dan bau tahi.

Otoritas semacam ini biasanya mereka dapatkan berkat pengalaman kerja menahun, latar belakang pendidikan cemerlang, kedekatan dengan pimpinan (mungkin agak menjilat dikit), dan keberuntungan belaka.

Mereka lupa, dulu mereka juga memulai karir dari ‘kolong meja’ pimpinan. Kekuasaan membuat mereka buta, mereka benar-benar lupa bahwa betapa muaknya mereka dulu dengan atasan yang bertingkah seperti seorang bajingan.

Orang-orang model begini kebanyakan bacot doang, ngomong soal kewajiban dan loyalitas kepada perusahaan, tapi abai kepada hak pekerja. Mirip seperti babi-babi dalam cerita Animal Farm-nya George Orwell. Rakus dan tamak akan kekuasaan.

Dominasi tak sehat begini tak bisa dibiarkan. Ketidakseimbangan antara tugas, fungsi, tanggung jawab, kewajiban dan hak adalah sistem yang tidak adil. Jangan mau terus dicekok oleh omong-kosong kapitalis pembual. Yang mereka sebut dengan loyalitas, pengabdian dan kesetiaan sebenarnya hanyalah ilusi, mereka hanya butuh kepatuhan.

Kita harus mulai sadar bahwa pola kerja yang seperti ini harus hancur-lebur. Para pendusta itu jelas-jelas merugikan hak-hak yang mestinya kita peroleh dengan penuh. Kita juga harus mengerti bahwa kita adalah orang yang ‘bekerja’, bukan orang yang ‘dikerjai’.

Tempat kerja seharusnya menjadi tempat yang inklusif bagi semua orang, di mana tiap-tiap individu dapat merasa aman dan nyaman atas apa yang telah ditugaskan kepadanya. Keadaan di mana setiap orang merasa memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Kita perlu tahu apa yang menjadi kewajiban dan apa yang menjadi hak. Keduanya harus seimbang dan saling berkesinambungan. Jikalau ada hak yang dilanggar, tuntutlah sampai hak itu dibayar dengan tuntas. Jika tidak, kau pantas membakar perusahaan itu.

Inilah potret kehidupan kita, saling menjilat ke atas dan meludah ke bawah. Memang tak semua orang berprilaku begitu, tapi aku sendiri sudah muak menyebut-nyebut oknum dalam perihal ini. Kita setidaknya harus bernyali untuk berpikir bahwa kita telah diperbudak.

Memang realistisnya kita tidak mungkin bisa melawan sendirian, dalam artian menuntut pemenuhan hak secara individual. Upaya ini harus dikerjakan secara kolektif dan konstruktif. Kita orang-orang yang sadar ini harus mengorganisir rekan-rekan pekerja yang lain.

Masalahnya, dan yang menjadi pekerjaan berat juga, menyadarkan orang-orang bigot di antara pekerja itu. Bigot adalah orang dengan sifat fanatik buta kepada apa yang ia percayai. Padahal, mereka ini cuma orang-orang tolol yang dibodohi. 

Mereka ini yang selalu bilang, “Beginilah kerja! Kalau gak mau capek ya gausah kerja” atau “Namanya juga aturan perusahaan, ya kita harus patuh” dan yang lebih bacod-nya, “Kalau kerja jangan mikiran uang, rezeki sudah ada yang ngatur” cuih! Taik anjing.

Kita harus membentuk kelompok dan berserikat jika benar-benar ingin meruntuhkan sistem yang tidak adil itu. Bila perlu lakukan pembangkangan masal pada perintah atasan-atasan laknat itu. Biarkan mereka tahu bahwa kuasa mereka bisa kita patahkan, mental mereka bisa kita ciutkan, dan kedudukan mereka bisa kita tumbangkan.

Kita adalah makhluk yang merdeka, orang yang bebas dan tidak dapat dikacungi oleh siapa pun. Tidak ada raja, tidak ada budak. Kita semua sama rata, dengan satu nama entitas, yaitu ‘manusia’. Tidak ada yang boleh diperintah atau memerintah di luar nalar kemanusiaan.

Hancurkan tirani!

Kita itu Sebenarnya ‘Bekerja’ atau ‘Dikerjai’ Sih? Kita itu Sebenarnya ‘Bekerja’ atau ‘Dikerjai’ Sih? Reviewed by Asique on 7/28/2021 03:42:00 PM Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.