Kabut Asap Riau adalah Mimpi Buruk yang Belum Usai di Kala Pandemi

sumber: wallpaperinside.com
sumber gambar: wallpaperinside.com


Oleh: Ardian Pratama

 

Merasa bengek saat pake masker di kala pandemi? Gak ada apa-apanya sama bengeknya Orang Riau di kala musim kabut asap.

***

Dalam serial anime Naruto, seorang ninja pelarian bernama Kisame Hoshigaki diceritakan berasal dari wilayah Kirigakure, sebuah desa tersembunyi yang berada di balik kabut tebal. Ia menjadi buronan setelah membunuh gurunya sendiri, dan mencuri salah satu pedang legendaris.

Kisame beruntung dapat meninggalkan desa kabutnya itu. Kemudian, ia memutuskan untuk bergabung bersama Akatsuki—sebuah NGO (Non-Governmental Organization) bagi ninja-ninja ekspatriat untuk “perdamain” dunia, sebuah privilege yang tak dimiliki oleh banyak shinobi.

Ada berbagai macam teori dan konspirasi mengapa sebenarnya Kisame meninggalkan Kirigakure. Tapi, tak ada satu pun yang membahas kemungkinan muaknya Kisame hidup dalam negeri berkabut.

Bukan hanya Kisame yang meninggalkan wilayah Kirigakure, ada Zabuza, Raiga, Suigetsu, Utakata, Haku, Meizu dan Gozu. Banyaknya ninja yang pergi dari Kirigakure, menjadi bukti bahwa hidup di negeri kabut tidak begitu mengasyikkan.

Di Indonesia juga ada wilayah yang mirip seperti Kirigakure, yaitu Provinsi Riau. Kedua wilayah ini sama-sama diselimuti oleh kabut di musim-musim tertentu. Bedanya, kabut di Kirigakure berasal dari uap air yang mengembun, sedangkan kabut di Riau berasal dari hutan-hutan yang dibakar oleh korporasi perkebunan sawit.

FYI: Riau juga punya ninja-ninja tangkas seperti di Kirigakure lho. Ada ninja pembakar hutan dan lahan, ada juga ninja pendodos kebun sawit milik orang. Kedua ninja tersebut sama sulitnya ditangkap dan diketahui keberadaannya seperti ninja Kirigakure.

Setiap kebakaran hutan yang terjadi di Riau, sudah pasti mengakibatkan munculnya kabut asap. Bukan kepulan asap seperti habis bakar sampah ya. Tapi, kabut asap yang menutupi seluruh bagian dan penjuru kota. Dari pagi sampai pagi minggu depannya. Loh kok bisa? Ya, yang dibakar itu hutan seluas ribuan hektar woy.

Karena kelebihan memproduksi asap, Riau akhirnya mengekspor komoditi ini ke provinsi dan negara-negara tetangga tanpa ada permintaan pasar, barang ilegal ini jadi makian semua orang. Benar-benar usaha yang sia-sia.

Bukan hanya itu, orang-orang Riau juga merasakan bengeknya menghirup udara di sepanjang hari, pakai masker atau gak pakai masker sama aja rasanya. Jadi, sebelum “Kak Rona” menyerang, orang-orang Riau sudah banyak “menghilang” duluan. 

Seperti yang Yenny (23), mahasiswi asal Riau, ungkapkan, “Masyarakat Riau gak bisa move on dari masker.”

Karena kabut asap juga, hari libur di Riau jadi lebih banyak daripada hari libur tanggal merah nasional. Mungkin ada penambahan libur satu hingga tiga minggu dalam setahun. Hiburan kecil bagi anak-anak sekolahan dan pegawai kantoran di Riau.

Nisa (22), teman Yenny, juga mengatakan malah aneh kalau kabut asap gak ada di Riau. Hal tersebut sudah menjadi fenomena alam yang natural, sudah menjadi musim tetap di Riau—hujan, kemarau dan kabut asap. Walau ia tidak memungkiri merasa tersiksa hidup di Riau.

Nah, kalau Suzazri (23) malah jenuh dengan penanganan kasus kebakaran hutan di Riau. Capek-capek ia ikut demonstrasi bersama mahasiswa lainnya dan menyuarakan pendapat, eh gak ada satu pun kasus yang terungkap ke publik. Lebih-lebih lahan bekas pembakaran hutan ditumbuhi oleh sawit.

Ini nih, masalah orang-orang di Riau. Tidak pernah mendapat keadilan atas pelaku pembakaran hutan selama bertahun-tahun. Perusahaan perusak lingkungan masih bebas bergerak memanaskan mesin industrinya, tanpa perlu khawatir izin perusahaan dicabut.

Tahun 2020 saja, sudah ada sekitar lima belas ribu hektar luas lahan yang terbakar menurut laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Gilak gak tu?

Apalagi baru-baru ini Omnibus Law akan diberlakukan di Indonesia, bayangkan betapa bebas nantinya korporasi-korporasi perkebunan sawit mengeksploitasi hutan. Hukum yang lama aja gak ada pengaruh apa-apa kok, lah ini Omnibus Law yang pro terhadap investor.

Kata Sustri sih (23), pekerja kreatif asal Riau, kabut asap memang Instagramable banget buat medsos, kayak event tahunan gitu. Tapi, ya gak gitu juga harus ganggu aktivitas warga. Semua gerak jadi terbatas, mau nafas aja harus hemat-hemat.

Kemudian, karena adanya wabah “Kak Rona” ini juga, bengeknya warga Riau jadi berkali-kali lipat. Pagi-siang-malam harus pakai masker terus sampai mampus. Pengen pindah ke Konoha, tapi di sana masih lockdown

Jadi, si Nova (20) memberi kita saran untuk selalu gunakan masker saat kabut asap datang dan menjaga kesehatan tubuh. Juga, selalu memberitahu masyarakat untuk berpartisipasi menjaga lingkungan sekitar. 

Yah begitulah adanya negeri jelmaan Kirigakure ini. Eh, ngomong-ngomong Mizukage kita ke mana ya?


Kabut Asap Riau adalah Mimpi Buruk yang Belum Usai di Kala Pandemi Kabut Asap Riau adalah Mimpi Buruk yang Belum Usai di Kala Pandemi Reviewed by Asique on Oktober 23, 2020 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.