Indira Kalistha adalah Contoh Betapa Buruknya Candaan dan Reaksi Kita di Medsos Hari Ini

Sumber gambar: Pexels







Internet yang dulu bukanlah yang sekarang  dulu digadang sekarang dilarang-larang  


***


Sensasi Indira Kalistha di media sosial seperti diterjang oleh Gomu-Gomu no Pistol. Pasalnya, pernyataan-pernyataannya di video youtube berkonsep podcast milik Gritte Agata memberi kesempatan warganet +62 untuk menghujat onlineVideo tersebut sudah kelewat viral, lantaran komentarnya dianggap meremehkan pandemi C0V-19. Di dalam video, Indira bercerita kegiatan sehari-harinya di tengah penerapan physical distancing. Ia katakan tak menggunakan masker ketika beraktivitas di luar dan cuci tangan sebelum makan.

Sebenarnya Indira Kalistha sudah pasti bercanda, manusia mana pun jelas tahu bahwa itu adalah tindakan paling stupid. Tapi, warganet tetap gak terima sama omong-kosongnya di video interview unfaedah itu. Mungkin warga noob twittard nganggap dark joke-nya Indira kebablasan (Jadi black joke dong?).

Gak butuh lama buat Indira Kalistha dan Gritte Agata klarifikasi dan minta maaf ala-ala pelaku kejahatan online. Ngeri kan memang hansip moral dalam jaringan ini. Semakin ke sini, medsos udah kayak halaman belakang rumah saja, entah mana yang dunia maya entah mana yang dunia nyata. Di mana-mana orang sudah seperti sarjana ilmu moral dan kehakimanfakultas ilmu apa saja, universitas suka-suka.

Mungkin kesalahan Indira Kalistha adalah bercanda di masa yang tidak tepatpandemi C0V-19 dan patroli hansip online. Seharusnya candaan itu sifatnya personal kepada Gritte Agata, ya goblok aja kalau bukan candaan. Namun, karena divideoin dan disebarkan pada netizen bar-bar +62, langsung deh ditabok gapake lama. Tuh, jadi nangis-nagis kan di channel youtube om Deddy.

Fenomena ini ada sebabnya guys, gak datang tiba-tiba kek jin-nya Aladdin. Sekarang di medsos-medsos udah gak seasik dulu bercandanya. Mau netizen atau pun konten kreatornya sama-sama norak gak ketolong. Ada Netizen berlagak suci, sok intelektubis, baperan memprihatinkan, juga sensitif abis pake lapor-lapor polisi (pencemaran nama baek pala kau!). Dari sisi konten kreator malah lebih parah bobroknya, bikin konten prank paling bangsat, vlog rumah tangga unfaedah anjirr, challenge-challenge gak guna, ah selebihnya kalian cari sendirilah. Semua ini tentu berawal dari budaya pengen narsis. Gak komen gak femes.

Sadar gak sih kalian yang anak-anak 80-an dan 90-an? Sejak orang-orang tua (boomer) menyerang internet, dunia maya itu jadi gak asik lagi. Lihat saja facebook, platform tersebut udah jarang dipantengin kaum-kaum muda. Karena apa? postingan para kaum-kaum tua kadang bikin muak di sana. Ada yang nyebar hoax-lah, nyebar konspirasi Mamarika-lah, Wahyudi-lah, Remason hingga Pekai. Eh, kalau ada teman kau ikut nular dari bapak-mamaknya share-share begituan, kelar hidup lho!

Kemudian, canda-candaan di media sosial facebook juga mulai garing. Batasan-batasan moral terbentuk karena ada invasi kaum tua ini. Tiba-tiba orang tua, paman, bibi, kakek dan nenek minta pertemanan di facebook, ya gak bisa ditolak. Jadinya, anak-anak muda gaul narsistis gak bisa update macam-macam lagi. Fanspage meme juga udah jarang update, creator meme jadi malas buat konten, maunya repost doang, kan tuman! Padahal figur-figur meme kayak Troll, Herp, Derp, Derpina, Rage Face, Yaoming dan Mad Dog begitu menghibur dikala scrolling timelineBegitulah kisah hijrahnya anak-anak dark joke snoob pindah ke twitter. 

Selanjutnya, sejak disahkannya UU ITE membuat pergerakan peselancar dunia dangkal maya semakin sempit. Bahan candaan gak bisa lagi nyambung sama dominasi intelektual warganet +62. Sedikit-dikit dicibir lapor polisi, dibikin malu lapor lagi, di-bully online lapor teross.. macam-macamlah pokoknya. Oh ya guys, pasti selalu ada drama ciduk-cidukan oleh superhero dari simpang empat nih kalau kejadian ribut-ribut. 

Menurutku sih, konten-konten viral yang dilaporin polisi itu seharusnya yang benar-benar merugikan orang secara materi dan finansial. Bukannya kritik atau pendapat yang dianggap melanggar batas-batas moral masyarakat yang sangat subjektif itu. Yang namanya kritik ya kritik, gak ada tuh kritik budaya barat dan kritik budaya timur. Setiap orang bebas kok mengekspresikan pendapatnya di muka umum, termasuk internet. Asal itu tadi, tidak mengganggu ketertiban umum dan merugikan orang lain.

Dunia maya kan dunia yang universal, dunia tempat semua orang tidak terikat pada kultur mana pun. Ya kalau ada konten yang tidak sesuai dengan referensimu jangan dilihat atau diklik, cukup tinggalkan saja. Ribet amat jadi orang. Ini lagi, para konten kreator yang udah tau iklim medsos warganet +62 absurd banget, malah buat konten yang aneh-aneh. Mau terkenal tapi jangan bloon dong, plis.

Untuk itu, kalau kalian mau berkomentar agak out of the box di ruang publik dunia maya, pastikan akun udah di-private, juga liat-liat follower, mana tau ada yang agak norak, blokir aja. Kalau bercanda jangan divideoin dan diposting, jangan ulangi kebodohan dari yang udah-udah viral. Sementara yang suka cosplay jadi hansip online atau penjaga moral universe, mau sampe kapan ngatur pendapat orang lain?

Kalau gak mau ribet sekalian, ya gausah maen medsos. Nge-PUBG atau mabar Mobile Legend kek, kayaknya lebih seru. Moga-moga aja bapak-bapak dan emak-emak legend medsos gak ikutan nimbrung di game online. Kalau sampe iya, mampus lu dipopor M416 pake compensator.

Yaudahlah ya... capek juga bikin tulisan entah hapa-hapa ini. Maklum aja soalnya aku lagi malas plus gabut kali. Pengennya nyinyir dan ngebacot doang. Oh ya, buat kalian yang juag pengen bacotannya nangkring di website ini, kirim ke sini ya!

Indira Kalistha adalah Contoh Betapa Buruknya Candaan dan Reaksi Kita di Medsos Hari Ini Indira Kalistha adalah Contoh Betapa Buruknya Candaan dan Reaksi Kita di Medsos Hari Ini Reviewed by Asique on Mei 18, 2020 Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.